Dimensi Kajian Filsafat
Ilmu(Epistemologi)
UNTUK
MEMENUHI SALAH SATU TUGAS MATAKULIAH
FILSAFAT
ILMU
Dosen Pengampu:
Soni Samsu
Rizal, M.Pd.I.
Disusun Oleh:
Fitri
Fitriani
Ruli
Nurhuda
PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH (PGMI)
FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM DARUSSALAM (IAID)
Jl. K.H. Ahmad Fadlil Ponpes Darussalam Tlp.
(0265)774376 Ciamis 46271
KATA PENGANTAR
Segala
puji hanya milik Allah SWT, shalawat dan salam selalu tercurahkan kepada
Rasulullah SAW. Berkat limpahan dan ramat-Nya penyusun mampu menyelesaikan
tugas makalah ini guna memenuhi tugas mata kuliah “FILSAFAT ILMU”.
Dalam penyusunan
tugas atau materi ini, tidak sedikit hambatan yang penulis hadapi, namun
penulis menyadari bahwa dalam kelancaran penyusunan materi ini tidak lain
berkat bantuan dari semua pihak. Sehingga kendala-kendala yang penulis hadapi
dapat teratasi dengan baik.
Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu
tentang “DIMENSI KAJIAN FILSAFAT ILMU”,
yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber informasi dan
referensi.
Semoga malah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas
dan menjadi sumbangan pemikiran kepada pembaca , khususnya para mahasiswa
Institut Agama Islam Darussalam (IAID) Program Studi Pendidikan Guru Madrasah
Ibtidaiyah (PGMI) Semester 1 (satu).
Kami sadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan
jauh dari sempurna. Oleh karenanya, kami harapkan kepada para pembaca untuk
memberikan masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.
|
Ciamis, November 2016
|
|
|
|
Penulis
|
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Filsafat kerap dipandang sebagai ilmu abstrak, padahal filsafat ini sangat
dekat sekali dengan kehidupan manusia. Filsafat bagi sebagian orang merupakan
disiplin ilmu yang kurang diminati, karena dianggap sebagai disiplin ilmu yang
sulit dan membutuhkan pemikiran yang lebih. Namun keraguan, keengganan,
dan kecemasan ini biasanya pelan-pelan memudar ketika sudah mulai
menekuni bidang ini dan bahkan akan lebih terasa menarik ketika sadar bahwa
filsafat adalah bagian yang terpisahkan dari kehidupan manusia.
Dalam
makalah ini, akan ada beberapa hal yang dibahas mengenai Dimensi Kajian
Filsafat Ilmu dalam Eistimologi. Didalamnya terdapat, pengertian, persyaratan,
serta Aliran-Aliran dalam Epistimologi.
B.
RUMUSAN
MASALAH
Melihat dari latar belakang diatas, maka
rumusan masalahnya adalah sebagai berikut:
1.
Apa pengertian epistemologi?
2.
Apa saja
persyaratan epistemologi?
3.
Apa saja
aliran-aliran dalam epistemologi?
C.
TUJUAN
PENULISAN
Dari rumusan masalah diatas, diharapkan mahasiswa dapat:
1.
Mengetahui pengertian
epistemologi
2.
Mengetahui
persyaratan epistemologi
3.
Mengetahui
aliran-aliran dalam epistemologi
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Epistemologi
Istilah “Epistemologi” berasal dari bahasa Yunani yaitu “episteme” yang
berarti pengetahuan dan ‘logos” berarti perkataan, pikiran, atau ilmu.
Jadi, epistemologi berarti pikiran atau teori tentang pengetahuan atau ilmu
pengetahuan. Istilah lain juga biasa di gunakan, yaitu teori pengetahuan atau
filsafat pengetahuan.
Epistemologi sering juga disebut teori pengetahuan (theory of knowledge).
Epistemologi lebih memfokuskan pengetahuan yang berhubungan dengan konsep,
sumber, dan kriteria pengetahuan, jenis pengetahuan, dan lain sebagainya. Epistemologi akan terus mengkaji
tentang suatu fakta sampai pada batas yang tidak dapat dikaji lagi. Batasan
dari epistemologi merupakan adalah batasan dari pola pikir manusia, sehingga
kebenaran sejati yang tidak dapat dicapai oleh manusia adalah milik tuhan
semata. . Secara sederhana Epistemologi merupakan pokok bahasan yang mengkaji
tentang pengetahuan serta kaitannya dengan kebenaran yang hakiki.
Beberapa ahli yang mencoba mengungkapkan definisi dari pada epistemologi
adalah P. Hardono Hadi. Menurut beliau epistemologi adalah cabang filsafat yang
mempelajari dan mencoba menentukan kodrat dan skope pengetahuan,
pengandaian-pengandaian dan dasarnya, serta pertanggung jawaban atas pernyataan
mengenai pengetahuan yang dimiliki.
Tokoh lain yang mencoba mendefinisikan epistemoogi adalah D.W Hamlyin,
beliau mengatakan bahwa epistemologi sebagai cabang filsafat yang berurusan
dengan hakikat dan lingkup pengetahuan, dasar dan pengandaian –
pengandaian serta secara umum hal itu dapat diandalkannya sebagai
penegasan bahwa orang memiliki pengetahuan.
B.
PERSYARATAN EPISTEMOLOGI
Ilmu harus memiliki dasar pembenaran, bersifat sistematis dan sistemik
serta bersifat intersubjektif. Ketiga ciri tersebut saling terkait dan
merupakan persyaratan bagi pengetahuan untuk disebut sebagai pengetahuan ilmiah
atau ilmu pengetahuan.
Suatu pengetahuan itu termasuk ilmu atau pengetahuan ilmiah apabila
pengetahuaan itu dan cara memperolehnya telah memenuhi syarat tertentu.
Apabila syarat-syarat itu belum terpenuhi, maka suatu pengetahuan dapat
digolongkan ke dalam pengetahuan lain yang bukan ilmu, walaupun bukan termasuk
fisafat.
Menurut Conny R. Semiawan (2005: 99)
syarat-syarat terpenting bagi suatu pengetahuan untuk dapat tergolong ke dalam
ilmu pengetahuan atau pengetahuan ilmiah ialah dasar pembenaran, sifat sistematis,
dan sifat intersubjektif.
1. Dasar
Pembenaran
Dasar pembenaran menuntut pengaturan
kerja ilmiah yang diarahkan pada perolehan derajat kepastian sebesar mungkin.
Pernyataan harus dirasakan atas pemahaman apriori yang juga didasarkan
atas hasil kajian empiris.Pada umumnya ada tiga teori kebenaran, yaitu
a. Teori
kebenaran saling berhubungan (coherence Theory of truth)
Suatu proporsii itu benar apabila
hal tersebut mempunyai hubungan dengaan ide-ide dari proporsi yang telah ada
atau benar. Dengan kata lain, yaitu apabila proporsi itu mempunyai hubungan
dengan proporsi yang terdahulu yang benar. Pembuktian teori kebenaran koherensi
dapat melalui fakta sejarah dan logika.
b. Teori
kebenaran saling berkesesuaian (correspondence theory of truth)
Suatu proporsi itu bernilai benar
apabila proporsi itu saling berkesesuaian dengan kenyataan atau realitas.
Kebenaran demikian dapat dibuktiikan secara langsung pada dunia kenyataan
c. Teori
Kebenaran Inherensi (Inherent theory of truth)
Suatu proporsi memiliki nilai kebenaran
apabila memiliki akibat atau konsekuensi-konsekuensi yang bermanfaat, maksudnya
ialah hal tersebut dapat dipergunakan.
2. Sistematik
Semantik dan sistematis
masing-masing menunjuk pada susunan pengetahuan yang didasarkan pada
penyelidikan (research) ilmiah yang keterhubungannya merupakan suatu
kebulatan melalui komparasi dan generalisasi secara teratur.
3. Sifat
Intersubjektif
Sifat
intersubjektif ilmu atau pengetahuan tidak dirasakan atas intuisi dan sifat
subjektif orang seorang, namun harus ada kesepakatan dan pengakuan akan kadar
kebenaran dari ilmu itu didalam setiap bagian dan didalam hubungan menyeluruh
ilmu tersebut, sehingga tercapai intersubjektivitas. Istilah Intersubjektivitas
lebih eksplisit menunjukkan bahwa pengetahuan yang telah diperoleh seorang
subjek harus mengalami verifikasi oleh subjek-subjek lain supaya pengetahuan
itu lebih terjamin keabsahan dan kebenarannya.
C.
ALIRAN-ALIRAN DALAM EPISTEMOLOGI
Secara garis
besar, terdapat dua aliran pokok dalam dimensi Epistemologi. Kedua aliran
tersebut adalah alirann rasionalisme dan empirisme. Rasionalisme adalah suatu
aliran yang pemikiran yang menekankan pentingnya peran akal atau ide sebagai
bagian yang sangat menentukan hasil keputusan atau pemikiran. Rasionalisme
dikembangkan berdasarkan “ide” dari Plato. Bagi Plato, alam ide adalah alam
yang sesungguhnya yang bersifat tetap tak berubah-ubah. Sedangkan filsafat
Empiris berasal dari filsafat yang dikembangkan oleh aristoteles, yang
mengatakan bahwa realitas yang sebenarnya adalah terletak pada benda-benda
konkret, yang didapat oleh indera,bukan pada ide sebagaimana yang disebutksn
oleh Plato. Jadi, menurut Aristoteles sumber ilmu pengetahuan adalah pengalaman
empiris.
Ada beberapa aliran yang berbicara tentang ini, diantaranya :
1.
Empirisme
Kata empiris berasal dari kata yunani empieriskos yang berasal dari
kata empiria, yang artinya pengalaman. Menurut aliran ini manusia memperoleh
pengetahuan melalui pengalamannya. Dan bila dikembalikan kepada kata yunaninya,
pengalaman yang dimaksud ialah pengalaman inderawi. Manusia tahu es dingin
karena manusia menyentuhnya, gula manis karena manusia mencicipinya.
John locke (1632-1704) bapak aliran ini pada zaman modern mengemukakan
teori tabula rusa yang secara bahasa berarti meja lilin. Maksudnya ialah
bahwa manusia itu pada mulanya kosong dari pengetahuan, lantas pengalamannya
mengisi jiwa yang kosong itu, lantas ia memiliki pengetahuan. Mula- mula
tangkapan indera yang masuk itu sederhana, lama-lama sulit, lalu tersusunlah
pengetahuan berarti.berarti, bagaimanapun kompleks (sulit)-nya pengetahuan
manusia, ia selalu dapat dicari ujungnya pada pengalaman indera. Sesuatu yang
tidak dapat diamati dengan indera bukan pengetahuan yang benar. Jadi,
pengalaman indera itulah sumber pengetahuan yang benar. Karena itulah
metode penelitian yang menjadi tumpuan aliran ini adalah metode eksperimen.
Kesimpulannya bahwa aliran empirisme
lemah karena keterbatasan indera manusia. Misalnya benda yang jauh kelihatan
kecil, sebenarnya benda itu kecil ketika dilihat dari jauh sedangkan kalau
dilihat dari dekat benda itu besar.
2.
Rasionalisme
Secara singkat aliran ini menyatakan bahwa akal adalah dasar kepastian
pengetahuan. Pengetahuan yang benar diperoleh dan diukur dengan akal.
Manusia, menurut aliran ini, menmperoleh pengetahuan melalui kegiatan akal
menangkap objek. Bapak aliran ini adalah Descartes (1596-1650). Descartes
seorang filosof yang tidak puas dengan filsafat scholastic yang pandangannya
bertentangan, dan tidak ada kepastian disebabkan oleh kurangnya metode berpikir
yang tepat. Dan ia juga mengemukakan metode baru, yaitu metode keragu-raguan.
Jika orang ragu terhadap segala sesuatu, dalam keragu-raguan itu jelas ia
sedang berpikir. Sebab, yang sedang berpikir itu tentu ada dan jelas ia sedang
erang menderang. Cogito Ergo Sun (saya berpikir, maka saya ada).
Rasio merupakan sumber kebenaran. Hanya rasio sajalah yang dapat membawa orang
kepada kebenaran. Yang benar hanya tindakal akal yang terang benderang yang
disebut Ideas Claires el Distictes (pikiran yang terang benderang dan
terpilah-pilah). Idea terang benderang inilah pemberian tuhan seorang
dilahirkan ( idea innatae = ide bawaan). Sebagai pemberian tuhan, maka tak
mungkin tak benar. Karena rasio saja yang dianggap sebagai sumber kebenaran,
aliran ini disebut rasionlisme. Aliran rasionalisme ada dua macam , yaitu dalam
bidang agama dan dalam bidang filsafat. Dalam bidang agama , aliran
rasionalisme adalah lawan dari otoritas dan biasanya digunakan untuk
mengkritik ajran agama. Adapun dalam bidang filsafat, rasionalisme adalah
lawan dari empirisme dan sering berguna dalam menyusun teori pengetahuan .
3.
Positivisme
Tokoh
aliaran ini adalah august compte (1798-1857). Ia menganut paham empirisme. Ia
berpendapat bahwa indera itu sangat penting dalam memperoleh pengetahuan.
Tetapi harus dipertajam dengan alat bantu dan diperkuat dengan eksperimen.
Kekeliruan indera akan dapat dikoreksi lewat eksperimen. Eksperimen memerlukan
ukuran-ukuran yang jelas. Misalnya untuk mengukur jarak kita harus menggunakan alat
ukur misalnya meteran, untuk mengukur berat menggunakan neraca atau timbangan
misalnya kiloan . Dan dari itulah kemajuan sains benar benar dimulai. Kebenaran
diperoleh dengan akal dan didukung oleh bukti empirisnya. Dan alat bantu itulah
bagian dari aliran positivisme. Jadi, pada dasarnya positivisme bukanlah suatu
aliran yang dapat berdiri sendiri. Aliran ini menyempurnakan empirisme dan
rasionalisme.
4.
Intuisionisme
Henri
Bergson (1859-1941) adalah tokoh aliran ini. Ia menganggap tidak hanya indera
yang terbatasa, akal juga terbatas. Objek yang selalu berubah, demikian
bargson. Jadi, pengetahuan kita tentangnya tidak pernah tetap. Intelektual atau
akal juga terbatas. Akal hanya dapat memahami suatu objek bila ia
mengonsentrasikan dirinya pada objek itu, jadi dalam hal itu manusia tidak
mengetahui keseluruhan (unique), tidak dapat memahami sifat-sifat yang tetap
pada objek. Misalnya manusia menpunyai pemikiran yang berbeda-beda. Dengan
menyadari kekurangan dari indera dan akal maka bergson mengembangkan satu
kemampuan tingkat tinggi yang dimiliki manusia, yaitu intuisi.
5.
Kritisme
Aliran ini
muncul pada abad ke-18 suatu zaman baru dimana seseorang ahli pemikir yang
cerdas mencoba menyelesaikan pertentangan antara rasionalisme dengan empirisme.
Seorang ahli pikir jerman Immanuel Kant (1724-18004) mencoba menyelesaikan
persoalan diatas, pada awalnya, kant mengikuti rasionalisme tetapi terpengaruh
oleh aliran empirisme. Akhirnya kant mengakui peranan akal harus dan keharusan
empiris, kemudian dicoba mengadakan sintesis. Walaupun semua pengetahuan
bersumber pada akal (rasionalisme), tetapi adanya pengertian timbul dari
pengalaman (empirime).
Jadi, metode
berpikirnya disebut metode kiritis. Walaupun ia mendasarkan diri dari nilai
yang tinggi dari akal, tetapi ia tidak mengingkari bahwa adanya
persoalan-persoalan yang melampaui akal.
6.
Idealisme
Idealisme
adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa hakikat dunia fisik hanya dapat
dipahami dalam kaitan dengan jiwa dan roh. Istilah idealisme diambil dari kata idea
yaitu suatu yang hadir dalam jiwa. Pandangan ini dimiliki oleh plato dan
pada filsafat modern.
Idealisme mempunyai argumen epistemologi tersendiri. Oleh karena itu,
tokoh-tokoh teisme yang mengajarkan bahwa materi tergantung pada spirit tidak
disebut idealisme karena mereka tidak menggunakan argumen epistemologi yang
digunakan oleh idealisme. Idealisme secara umum berhubungan dengan
rasionalisme. Ini adalah mazhab epistemologi yang mengajarkan bahwa pengetahuan
apriori atau deduktif dapat diperoleh dari manusia dengan akalnya.
BAB III
PENUTUPAN
A.
KESIMPULAN
1.
Epistemologi
secara etimologis diartikan sebagai teori pengetahuan yang benar dan dalam
bahasa Indonesia disebut filsafat pengetahuan. Secara terminologi epistemologi
adalah teori mengenai hakikat ilmu pengetahuan atau ilmu filsafat tentang
pengetahuan.
2.
Suatu pengetahuan itu termasuk ilmu atau pengetahuan
ilmiah apabila pengetahuaan itu dan cara memperolehnya telah memenuhi syarat
tertentu
·
Dasar Pembenaran
·
Sistematik
·
Sifat Intersubjektif
3.
Ada beberapa aliran dalam epistemologi diantaranya
yaitu:
Ø Empirisme
Ø Rasionalisme
Ø Positivisme
Ø Kritisme
Ø Intuisionisme
Ø Idealisme
DAFTAR PUSTAKA
Hadi, P. Hardono,
Epistemolog Filsafat Pengetahuan
(Yogyakarta: Kanisius, 1994).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar