Jumat, 30 Desember 2016

makalah filsafat ilmu



Dimensi Kajian Filsafat Ilmu(Epistemologi)
                   UNTUK MEMENUHI SALAH SATU TUGAS  MATAKULIAH
FILSAFAT ILMU

Dosen Pengampu:

Soni Samsu Rizal, M.Pd.I.

Disusun Oleh:

Fitri Fitriani
Ruli Nurhuda



PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH (PGMI)
FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM DARUSSALAM (IAID)



Jl. K.H. Ahmad Fadlil Ponpes Darussalam Tlp. (0265)774376 Ciamis 46271
 



KATA PENGANTAR

Segala puji hanya milik Allah SWT, shalawat dan salam selalu tercurahkan kepada Rasulullah SAW. Berkat limpahan dan ramat-Nya penyusun mampu menyelesaikan tugas makalah ini guna memenuhi tugas mata kuliah “FILSAFAT ILMU”.
            Dalam  penyusunan tugas atau materi ini, tidak sedikit hambatan yang penulis hadapi, namun penulis menyadari bahwa dalam kelancaran penyusunan materi ini tidak lain berkat bantuan dari semua pihak. Sehingga kendala-kendala yang penulis hadapi dapat teratasi dengan baik.
            Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang “DIMENSI KAJIAN FILSAFAT ILMU”, yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber informasi dan referensi.
            Semoga malah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan menjadi sumbangan pemikiran kepada pembaca , khususnya para mahasiswa Institut Agama Islam Darussalam (IAID) Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Semester 1 (satu).
            Kami sadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Oleh karenanya, kami harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.


Ciamis,    November 2016




Penulis


 

 





BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG

Filsafat kerap dipandang sebagai ilmu abstrak, padahal filsafat ini sangat dekat sekali dengan kehidupan manusia. Filsafat bagi sebagian orang merupakan disiplin ilmu yang kurang diminati, karena dianggap sebagai disiplin ilmu yang sulit dan membutuhkan pemikiran yang lebih. Namun keraguan, keengganan, dan  kecemasan ini biasanya pelan-pelan memudar ketika sudah mulai menekuni bidang ini dan bahkan akan lebih terasa menarik ketika sadar bahwa filsafat adalah bagian yang terpisahkan dari kehidupan manusia.
Dalam makalah ini, akan ada beberapa hal yang dibahas mengenai Dimensi Kajian Filsafat Ilmu dalam Eistimologi. Didalamnya terdapat, pengertian, persyaratan, serta Aliran-Aliran dalam Epistimologi.

B.     RUMUSAN MASALAH
Melihat dari latar belakang diatas, maka rumusan masalahnya adalah sebagai berikut:
1.      Apa pengertian epistemologi?
2.      Apa saja persyaratan epistemologi?
3.      Apa saja aliran-aliran dalam epistemologi?
C.    TUJUAN PENULISAN

Dari rumusan masalah diatas, diharapkan mahasiswa dapat:
1.      Mengetahui pengertian epistemologi
2.      Mengetahui persyaratan epistemologi
3.      Mengetahui aliran-aliran dalam epistemologi





BAB II
PEMBAHASAN

A.   Pengertian Epistemologi
          Istilah “Epistemologi” berasal dari bahasa Yunani yaitu “episteme” yang berarti pengetahuan dan ‘logos” berarti perkataan, pikiran, atau ilmu. Jadi, epistemologi berarti pikiran atau teori tentang pengetahuan atau ilmu pengetahuan. Istilah lain juga biasa di gunakan, yaitu teori pengetahuan atau filsafat pengetahuan.
Epistemologi sering juga disebut teori pengetahuan (theory of knowledge). Epistemologi lebih memfokuskan pengetahuan yang berhubungan dengan konsep, sumber, dan kriteria pengetahuan, jenis pengetahuan, dan lain sebagainya. Epistemologi akan terus mengkaji tentang suatu fakta sampai pada batas yang tidak dapat dikaji lagi. Batasan dari epistemologi merupakan adalah batasan dari pola pikir manusia, sehingga kebenaran sejati yang tidak dapat dicapai oleh manusia adalah milik tuhan semata. . Secara sederhana Epistemologi merupakan pokok bahasan yang mengkaji tentang pengetahuan serta kaitannya dengan kebenaran yang hakiki.
Beberapa ahli yang mencoba mengungkapkan definisi dari pada epistemologi adalah P. Hardono Hadi. Menurut beliau epistemologi adalah cabang filsafat yang mempelajari dan mencoba menentukan kodrat dan skope pengetahuan, pengandaian-pengandaian dan dasarnya, serta pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki.
Tokoh lain yang mencoba mendefinisikan epistemoogi adalah D.W Hamlyin, beliau mengatakan bahwa epistemologi sebagai cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat  dan lingkup pengetahuan, dasar dan pengandaian – pengandaian serta secara umum hal itu dapat  diandalkannya sebagai penegasan bahwa orang memiliki pengetahuan.

B.     PERSYARATAN EPISTEMOLOGI

Ilmu harus memiliki dasar pembenaran, bersifat sistematis dan sistemik serta bersifat intersubjektif. Ketiga ciri tersebut saling terkait dan merupakan persyaratan bagi pengetahuan untuk disebut sebagai pengetahuan ilmiah atau ilmu pengetahuan.
Suatu pengetahuan itu termasuk ilmu atau pengetahuan ilmiah apabila pengetahuaan itu dan cara memperolehnya telah memenuhi syarat tertentu.  Apabila syarat-syarat itu belum terpenuhi, maka suatu pengetahuan dapat digolongkan ke dalam pengetahuan lain yang bukan ilmu, walaupun bukan termasuk fisafat.
Menurut Conny R. Semiawan (2005: 99) syarat-syarat terpenting bagi suatu pengetahuan untuk dapat tergolong ke dalam ilmu pengetahuan atau pengetahuan ilmiah ialah dasar pembenaran, sifat sistematis, dan sifat intersubjektif.
1.    Dasar Pembenaran
Dasar pembenaran menuntut pengaturan kerja ilmiah yang diarahkan pada perolehan derajat kepastian sebesar mungkin. Pernyataan harus dirasakan atas pemahaman apriori yang juga didasarkan atas hasil kajian empiris.Pada umumnya ada tiga teori kebenaran, yaitu
a.     Teori kebenaran saling berhubungan (coherence Theory of truth)
Suatu proporsii itu benar apabila hal tersebut mempunyai hubungan dengaan ide-ide dari proporsi yang telah ada atau benar. Dengan kata lain, yaitu apabila proporsi itu mempunyai hubungan dengan proporsi yang terdahulu yang benar. Pembuktian teori kebenaran koherensi dapat melalui fakta sejarah dan logika.
b.    Teori kebenaran saling berkesesuaian (correspondence theory of truth)
Suatu proporsi itu bernilai benar apabila proporsi itu saling berkesesuaian dengan kenyataan atau realitas. Kebenaran demikian dapat dibuktiikan secara langsung pada dunia kenyataan
c.     Teori Kebenaran Inherensi (Inherent theory of truth)
Suatu proporsi memiliki nilai kebenaran apabila memiliki akibat atau konsekuensi-konsekuensi yang bermanfaat, maksudnya ialah hal tersebut dapat dipergunakan.
2.      Sistematik
Semantik dan sistematis masing-masing menunjuk pada susunan pengetahuan yang didasarkan pada penyelidikan (research) ilmiah yang keterhubungannya merupakan suatu kebulatan melalui komparasi dan generalisasi secara teratur.
3.      Sifat Intersubjektif
Sifat intersubjektif ilmu atau pengetahuan tidak dirasakan atas intuisi dan sifat subjektif orang seorang, namun harus ada kesepakatan dan pengakuan akan kadar kebenaran dari ilmu itu didalam setiap bagian dan didalam hubungan menyeluruh ilmu tersebut, sehingga tercapai intersubjektivitas. Istilah Intersubjektivitas lebih eksplisit menunjukkan bahwa pengetahuan yang telah diperoleh seorang subjek harus mengalami verifikasi oleh subjek-subjek lain supaya pengetahuan itu lebih terjamin keabsahan dan kebenarannya.

C.    ALIRAN-ALIRAN DALAM EPISTEMOLOGI
Secara garis besar, terdapat dua aliran pokok dalam dimensi Epistemologi. Kedua aliran tersebut adalah alirann rasionalisme dan empirisme. Rasionalisme adalah suatu aliran yang pemikiran yang menekankan pentingnya peran akal atau ide sebagai bagian yang sangat menentukan hasil keputusan atau pemikiran. Rasionalisme dikembangkan berdasarkan “ide” dari Plato. Bagi Plato, alam ide adalah alam yang sesungguhnya yang bersifat tetap tak berubah-ubah. Sedangkan filsafat Empiris berasal dari filsafat yang dikembangkan oleh aristoteles, yang mengatakan bahwa realitas yang sebenarnya adalah terletak pada benda-benda konkret, yang didapat oleh indera,bukan pada ide sebagaimana yang disebutksn oleh Plato. Jadi, menurut Aristoteles sumber ilmu pengetahuan adalah pengalaman empiris.
Ada beberapa aliran yang berbicara tentang ini, diantaranya :
1.      Empirisme
Kata empiris berasal dari kata yunani empieriskos yang berasal dari kata empiria, yang artinya pengalaman. Menurut aliran ini manusia memperoleh pengetahuan melalui pengalamannya. Dan bila dikembalikan kepada kata yunaninya, pengalaman yang dimaksud ialah pengalaman inderawi. Manusia tahu es dingin karena manusia menyentuhnya, gula manis karena manusia mencicipinya.
John locke (1632-1704) bapak aliran ini pada zaman modern mengemukakan teori tabula rusa yang secara bahasa berarti meja lilin. Maksudnya ialah bahwa manusia itu pada mulanya kosong dari pengetahuan, lantas pengalamannya mengisi jiwa yang kosong itu, lantas ia memiliki pengetahuan. Mula- mula tangkapan indera yang masuk itu sederhana, lama-lama sulit, lalu tersusunlah pengetahuan berarti.berarti, bagaimanapun kompleks (sulit)-nya pengetahuan manusia, ia selalu dapat dicari ujungnya pada pengalaman indera. Sesuatu yang tidak dapat diamati dengan indera bukan pengetahuan yang benar. Jadi, pengalaman indera itulah sumber pengetahuan yang benar. Karena itulah metode penelitian yang menjadi tumpuan aliran ini adalah metode eksperimen.
 Kesimpulannya bahwa aliran empirisme lemah karena keterbatasan indera manusia. Misalnya benda yang jauh kelihatan kecil, sebenarnya benda itu kecil ketika dilihat dari jauh sedangkan kalau dilihat dari dekat benda itu besar.
2.       Rasionalisme
Secara singkat aliran ini menyatakan bahwa akal adalah dasar kepastian pengetahuan. Pengetahuan yang benar diperoleh dan diukur dengan akal. Manusia, menurut aliran ini, menmperoleh pengetahuan melalui kegiatan akal menangkap objek. Bapak aliran ini adalah Descartes (1596-1650). Descartes seorang filosof yang tidak puas dengan filsafat scholastic yang pandangannya bertentangan, dan tidak ada kepastian disebabkan oleh kurangnya metode berpikir yang tepat. Dan ia juga mengemukakan metode baru, yaitu metode keragu-raguan. Jika orang ragu terhadap segala sesuatu, dalam keragu-raguan itu jelas ia sedang berpikir. Sebab, yang sedang berpikir itu tentu ada dan jelas ia sedang erang menderang. Cogito Ergo Sun (saya berpikir, maka saya ada).
            Rasio merupakan sumber kebenaran. Hanya rasio sajalah yang dapat membawa orang kepada kebenaran. Yang benar hanya tindakal akal yang terang benderang yang disebut Ideas Claires el Distictes (pikiran yang terang benderang dan terpilah-pilah). Idea terang benderang inilah pemberian tuhan seorang dilahirkan ( idea innatae = ide bawaan). Sebagai pemberian tuhan, maka tak mungkin tak benar. Karena rasio saja yang dianggap sebagai sumber kebenaran, aliran ini disebut rasionlisme. Aliran rasionalisme ada dua macam , yaitu dalam bidang agama dan dalam bidang filsafat. Dalam bidang agama , aliran rasionalisme adalah lawan dari otoritas dan biasanya digunakan untuk mengkritik  ajran agama. Adapun dalam bidang filsafat, rasionalisme adalah lawan dari empirisme dan sering berguna dalam menyusun teori pengetahuan .
3.       Positivisme
Tokoh aliaran ini adalah august compte (1798-1857). Ia menganut paham empirisme. Ia berpendapat bahwa indera itu sangat penting dalam memperoleh pengetahuan. Tetapi harus dipertajam dengan alat bantu dan diperkuat dengan eksperimen. Kekeliruan indera akan dapat dikoreksi lewat eksperimen. Eksperimen memerlukan ukuran-ukuran yang jelas. Misalnya untuk mengukur jarak kita harus menggunakan alat ukur misalnya meteran, untuk mengukur berat menggunakan neraca atau timbangan misalnya kiloan . Dan dari itulah kemajuan sains benar benar dimulai. Kebenaran diperoleh dengan akal dan didukung oleh bukti empirisnya. Dan alat bantu itulah bagian dari aliran positivisme. Jadi, pada dasarnya positivisme bukanlah suatu aliran yang dapat berdiri sendiri. Aliran ini menyempurnakan empirisme dan rasionalisme.
4.      Intuisionisme
Henri Bergson (1859-1941) adalah tokoh aliran ini. Ia menganggap tidak hanya indera yang terbatasa, akal juga terbatas. Objek yang selalu berubah, demikian bargson. Jadi, pengetahuan kita tentangnya tidak pernah tetap. Intelektual atau akal juga terbatas. Akal hanya dapat memahami suatu objek bila ia mengonsentrasikan dirinya pada objek itu, jadi dalam hal itu manusia tidak mengetahui keseluruhan (unique), tidak dapat memahami sifat-sifat yang tetap pada objek. Misalnya manusia menpunyai pemikiran yang berbeda-beda. Dengan menyadari kekurangan dari indera dan akal maka bergson mengembangkan satu kemampuan tingkat tinggi yang dimiliki manusia, yaitu intuisi.
5.      Kritisme
Aliran ini muncul pada abad ke-18 suatu zaman baru dimana seseorang ahli pemikir yang cerdas mencoba menyelesaikan pertentangan antara rasionalisme dengan empirisme. Seorang ahli pikir jerman Immanuel Kant (1724-18004) mencoba menyelesaikan persoalan diatas, pada awalnya, kant mengikuti rasionalisme tetapi terpengaruh oleh aliran empirisme. Akhirnya kant mengakui peranan akal harus dan keharusan empiris, kemudian dicoba mengadakan sintesis.  Walaupun semua pengetahuan bersumber pada akal (rasionalisme), tetapi adanya pengertian timbul dari pengalaman (empirime).
Jadi, metode berpikirnya disebut metode kiritis. Walaupun ia mendasarkan diri dari nilai yang tinggi dari akal, tetapi ia tidak mengingkari bahwa adanya persoalan-persoalan yang melampaui akal.
6.       Idealisme
Idealisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa hakikat dunia fisik hanya dapat dipahami dalam kaitan dengan jiwa dan roh. Istilah idealisme diambil dari kata idea yaitu suatu yang hadir dalam jiwa. Pandangan ini dimiliki oleh plato dan pada filsafat modern.
Idealisme mempunyai argumen epistemologi tersendiri. Oleh karena itu, tokoh-tokoh teisme yang mengajarkan bahwa materi tergantung pada spirit tidak disebut idealisme karena mereka tidak menggunakan argumen epistemologi yang digunakan oleh idealisme. Idealisme secara umum berhubungan dengan rasionalisme. Ini adalah mazhab epistemologi yang mengajarkan bahwa pengetahuan apriori atau deduktif dapat diperoleh dari manusia dengan akalnya.




BAB III
PENUTUPAN
A.    KESIMPULAN
1.      Epistemologi secara etimologis diartikan sebagai teori pengetahuan yang benar dan dalam bahasa Indonesia disebut filsafat pengetahuan. Secara terminologi epistemologi adalah teori mengenai hakikat ilmu pengetahuan atau ilmu filsafat tentang pengetahuan.
2.      Suatu pengetahuan itu termasuk ilmu atau pengetahuan ilmiah apabila pengetahuaan itu dan cara memperolehnya telah memenuhi syarat tertentu
·         Dasar Pembenaran
·         Sistematik
·         Sifat Intersubjektif
3.      Ada beberapa aliran dalam epistemologi diantaranya yaitu:
Ø  Empirisme
Ø  Rasionalisme
Ø  Positivisme
Ø  Kritisme
Ø  Intuisionisme
Ø  Idealisme














DAFTAR PUSTAKA
Hadi, P. Hardono,  Epistemolog Filsafat Pengetahuan  (Yogyakarta: Kanisius, 1994).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar